Hai abang,
Jika ada
sedikit waktu disela kesibukanmu, sempatkanlah untukmembaca ini. I write this
when i miss you but i can’t say because i know you’re busy. Tenang sayang, saya
(berusaha) mengerti.
Coba ingat,
Pertama kali
kita kenal.
Bagaimana akhirnya
kita bisa dekat.
Dan apa saja
yang kita lewati bersama.
Saat kita
tertawa bersama karena hal – hal konyol yang ada.
Saat senyuman
selalu berhasil meredam amarah kita.
Saat satu
sama lain dari kita saling mendukung.
Saat kamu
meng-imami ku sholat.
Saat setiap
pagi kita selalu berdo’a untuk kemudahan dan kelancaran menjalani hari.
Saat kita
makan bersama dengan masakan terbaik “kita”
Saat salah
satu dari kita berada dititik terendah,
dan satu lainnya meyakinkan “ semua akan baik2 saja”.
Saat kita menempuh
sore indah dan melewati malam bersama “melandio”.
Saat kita
khawatir dan gelisah ttg “semua akan baik2 saja” ketika emosi mulai berjalan lebih
cepat.
Saat kita
berjuang di atas hubungan yang goyah karena keegoisan.
Saat kita
beradu ocehan bijak karena salah satu dari kita telah salah konsep.
Saat kita
tertawa bersama membicarakan masa lalu yang selalu berhasil memberikan kita
pelajaran untuk menjadi lebih baik.
Saat kita
rekap absen bersama.
Saat kita
bingung harus makan apa dan akhirnya ngambekan karena sll kata “terserah” dari aku.
Saat kita
khawatir karena handphone satu sama lain tidak aktif.
Saat kita
harus bertengkar hanya karena operator idiot yang gangguan.
Saat kita
harus dorong motor berpuluh-puluh meter karena kehabisan bensin dan ban motornya
bocor.
Saat aku
lemah. Kemudian kamu selalu menguatkan.
Saat aku
menangis dan pelukanmu sll berhasil menenangkan.
Saat aku
berusaha sabar ketika menenangkanmu dalam keegoisanmu.
Saat cemburu
dan kekhwatiranku terkadang membuatmu marah dan penat.
Saat missed
call, telepon dan sms ku terkadang membuatmu terganggu.
Saat kamu
khawatir ketika aku pergi saat hujan dan tidak kembali ke kontrakan.
Saat kamu
harus memarahiku karena aku terlalu susah untuk dikasih tau.
Saat kamu
mulai diam karena sadar aku tlah banyak diam ketika kamu marah.
Saat kamu
pusing dan aku (juga ikut) pusing saat melandio mulai rewel dan akhirnya sakit.
Saat aku
rewel dan cerewet dengan kesehatanmu.
Apa yang
kamu rasakan ?
Apa semuanya
cukup berarti ?
Kemudian,
coba
bayangkan lagi
Saat semua
itu tak akan ada lagi.
Saat tak ada
lagi tawa kita.
Saat tak ada
lagi tangisku.
Saat tak ada
lg aku yang memanggilmu “abang”.
Saat tak ada
lagi “sayang” dariku.
Saat tak ada
lagi sms, telepon, dan missed call dari ku yang mengganggumu.
Saat tak ada
lagi kontak “my-wife” dengan nomorku.
Saat aku tak
lagi memasak untukmu.
Saat tak ada
lagi aku yang terlalu khawatir tentang mu.
Saat tak ada
lagi aku yang cemburu.
Saat tak ada
lagi “ucapan
selamat pagi’ di
pagi hari kemudian ucapan “ terima kasih untuk hari ini” di malam hari.
Saat tak ada
lg aku yang rewel dan cerewet akan kesehatanmu.
Saat tak ada
lg teman beradu ocehan bijak.
Saat tak ada
lg aku yang kau tenangkan dalam pelukan.
Saat tak
lagi ada aku yang berusaha menenangkanmu dalam titik terendah.
Saat tak ada
lg aku yang buatmu marah.
Saat aku tak
lagi menjadi seseorang yang km imami
sholat.
Apa yang
kamu rasakan ?
Apa kamu
merasa lebih baik ketika membayangkannya ?
Thank you,
forgive me, I LOVE YOU J
Coz i’m lonely, i’m tired, and MISSING you again
#DearGod –
AvengedSevenfold.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar